PERSEPEKTIF SOSIALKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA : Topik 5 : PERDANA SETYA PRASANTO PPG PRAJABATAN UNDIKSHA

HALLO SOBAT PERDANA .....

Kali ini saya akan menjelaskan tentang materi PERSEPEKTIF SOSIALKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA dalam Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan sebagai Scaffolding pada ZPD | Topik 5


Penggunaan strategi, pendekatan, model, metode, teknik dan taktik pembelajaran pada scaffolding dalam ZPD merupakan cara yang tepat untuk membantu peserta didik belajar. Dalam hal ini, guru dapat membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Selain itu, peran teman sebaya dalam pembelajaran juga dapat membantu peserta didik yang kesulitan dalam belajarnya, sehingga tujuan belajar peserta didik dapat tercapai dengan efektif


Scaffolding merupakan bagian dari konsep ZPD yang dimaknai sebagai bantuan yang disediakan lingkungan seperti teman, guru ataupun orang tua yang lebih kompeten. Hal ini bertujuan untuk membantu anak yang tidak mampu memenuhi tugas perkembangannya.

Sebagai seorang pendidik penting untuk menerapkan proses pembelajaran secara efektif dan efesien yang disesuaikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Hal ini dapat diterapkan melalui pemberian bantuan (Scaffolding) yang tepat dengan cara memilih teman sebaya atau orang dewasa yang lebih kompeten dalam menyampaikan materi pembelajaran. Dukungan yang diberikan dapat berupa bimbingan, bantuan, pujian, bahkan menerapkan pendekatan, strategi, model dan teknik mengajar pun dapat menjadi satu wujud dari sebuah scaffolding. Yang menjadi patokan adalah kita harus memahami di mana titik dukungan yang diperlukan oleh siswa.


Scaffolding

Salah satu penentu keberhasilan dalam pengaplikasian strategi pengajaran dapat dilihat dari aspek keefektifan komunikasi antara pengajar dan siswanya. Agar pengajar dapat secara langsung engaged dengan siswanya, maka dilakukanlah penggunaan-penggunaan strategi.



Pendekatan

1. Pendekatan Berpusat pada Peserta Didik: Menekankan pada kebutuhan, minat, dan gaya belajar peserta didik. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing.

2. Pendekatan Sosiokultural: Belajar melalui interaksi sosial dan kolaborasi. Guru dan peserta didik saling belajar dan membantu satu sama lain.

3. Pendekatan Konstruktivis: Belajar dengan membangun pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki

Salah satunya adalah implikasi yang terkenal dari teori Vygotsky, Scaffolding, yang mana dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pemahaman guru dan mengembangkan teknik pengajarannya (Verenikina, 2008).

Menurut Wood et all (1976) Scaffolding sendiri dapat digambarkan sebagai proses tutorial dimana orang dewasa atau orang yang lebih ahli membantu sesorang yang kurang dewasa atau kurang ahli (Bliss, Askew, Macrae, 1996).

Lave dan Wenger (1991) mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan konsep Vygotsky lainnya yaitu ZPD (Zone of Proximal Development), Scaffolding memiliki tujuan yang agak berbeda. ZPD sendiri lebih menekankan kepada kinerja mengajar yang menekankan kepada komunikasi dan koloborasi dua arah antara pengajar dan juga siswa, sedangkan scaffolding mengangkap kinerja mengajar sebagai proses komunikasi yang berjalan secara satu arah. Maka dari itu scaffolding dapat dilihat sebagai proses satu arah dimana pengajar mengkonstruksikan scaffolding itu sendiri dan kemudian menyajikannya untuk penggunaan pemula (Verenikina, 2008).

ZPD sendiri menurut Raymond (2000) memiliki arti sebagai jarak antara apa yang dapat dilakukan siswa sendiri dan pembelajaran berikutnya yang dapat mereka capai dengan bantuan yang kompeten (Van Der Stuyf, 2002). Meski pun telah dijelaskan bahwa ZPD dan scaffolding memiliki arah interaksi yang berbeda, namun menurut Cheng, Sung, dan Chen (2002), dapat dikatakan juga bahwa penggunaan scaffolding dapat memberikan dukungan individual berdasarkan dengan ZPD masing-masing siswa (Van Der Stuyf, 2002). Scaffolding dapat memfasilitasi kemampuan siswa untuk dapat membangun pemahaman dan menginternalisasi informasi baru sehingga scaffolding dapat membantu siswa-siswa melewati ZPD-nya masing-masing (Van Der Stuyf, 2002).

Dalam konteks kegiatan pengajaran dan interaksi dalam suatu kelas, istilah scaffolding digunakan sebagai gambaran dimana pengajar memberikan bantuan sementara kepada siswanya untuk membantu mereka menyelesaikan tugas atau mengembangkan pemahaman baru, sehingga pada nantinya siswa diharapkan dapat mengerjakan tugas yang serupa sendiri tanpa bantuan dari siapa pun (Hammond & Gibbons, 2005).




Seperti yang dijelaskan pada paragraph sebelumnya, fitur penting yang dapat digarisbawahi dari scaffolding adalah sifatnya yang sementara. Scaffolding sendiri memiliki tujuan dimana diharapkan kedepannya siswa akan dapat melakukan suatu hal secara mandiri. Maka dari itu, dalam melakukan scaffolding, dukungan dan bantuan yang diberikan oleh pengajar secara bertahap ditarik dan dikurangi kadarnya karena lama-kelamaan siswa diharapkan untuk mampu menyelesaikan tugas yang diberikan secara mandiri. Dukungan yang tepat waktu sangat penting untuk pemberlakuan scaffolding yang efektif. Pengajar pun dituntut untuk lebih memahami kemampuan dan pemahaman yang dimiliki oleh siswanya, mengenai apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui siswa tersebut pada awal suatu kegiatan (Hammond & Gibbons, 2005).


Selain berfokus pada siswa dan pemahaman mereka mengenai suatu tugas, pemberlakuan scaffolding juga menuntut pengajar untuk mengetahui fokus yang jelas pada tugas. Maka pengajar juga dituntut untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai bidang kurikulum atau bidang penyelidikan siswa mereka dan juga tuntutan tugas-tugas khusus yang dapat memungkinkan siswa untuk mencapai tujuan yang relevan (Hammond & Gibbons).


Scaffolding Sebagai Strategi Pengajaran


Strategi

1. Pembelajaran Berdiferensiasi: Menyediakan berbagai pilihan belajar agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan individu peserta didik.

2. Pembelajaran Ber scaffolding: Memberikan dukungan dan bantuan yang bertahap kepada peserta didik saat mereka belajar.

3. Pembelajaran Berpusat pada Masalah: Membantu peserta didik belajar dengan memecahkan masalah yang autentik dan bermakna.

Metode

1. Pembelajaran Kooperatif: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas bersama.

2. Pembelajaran Proyek: Peserta didik mengerjakan proyek jangka panjang yang melibatkan penelitian, pemecahan masalah, dan komunikasi.

3. Pembelajaran Berbasis Inquiry: Peserta didik mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, dan menganalisis informasi untuk membangun pengetahuan mereka sendiri.

Dalam melaksanakan strategi pengajaran, scaffolding dapat dilakukan dengan membantu siswa-siswa untuk dapat menghubungkan informasi lama atau situasi yang pernah/sedang dialami dengan pengetahuan-pengetahuan baru lewat komunikasi verbal mau pun nonverbal (Van Der Stuyf, 2002). Kegiatan scaffolding menurut Bransford, Brown, dan Cocking (2000), juga dapat dilakukan dengan memberikan kegiatan-kegiatan, seperti:

1. Kegiatan yang memotivasi atau menarik minat siswa terkait dengan tugas.

2. Menyederhanakan tugas agar lebih mudah dikelola dan dipahami oleh siswa.

3. Memberikan beberapa arahan untuk membantu fokus siswa kepada pencapaian tujuan.

4. Menunjukkan dengan jelas perbedaan antara pekerjaan yang dikerjakan oleh siswa dengan standar atau solusi yang diinginkan oleh pengajar.

5. Mengurangi frustasi dan resiko

6. Memberikan model dan mendefinisikan dengan jelas harapan atau outcome yang diharapkan dari aktivitas yang dilakukan.

(Van Der Stuyf, 2000).

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Scaffolding

Salah satu kelebihan dari penggunaan scaffolding, ialah bahwa instruksinya melibatkan atau engaged secara langsung dengan siswa yang diajar. Siswa yang dibimbing menggunakan scaffolding tidak hanya mendengarkan dan mendapatkan informasi secara pasif dari pengajar mereka karena pengajar akan memberikan feedback kepada mereka pada setiap tugas yang telah dikerjakan. Selain itu, scaffolding juga dapat memotivasi siswa sehingga timbul perasaan ingin tahu dan ingin belajar mengenai suatu hal baru pada diri siswa. Instruksi pada scaffolding biasanya berbeda-beda tergantung kepada kemampuan siswa, sehingga dapat menguntungkan untuk masing-masing individu siswa. Meski pun hal tersebut terlihat baik, namun hal tersebut juga dapat menjadi kekurangan dari penggunaan scaffolding itu sendiri. Karena scaffolding dapat memiliki instruksi yang disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa, membuat penggunaannya memakan waktu yang lama dibandingkan dengan pengajaran biasa. Penerapan scaffolding pada sebuah kelas dengan siswa berjumlah banyak juga dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pengajarnya. Selain itu, dalam penggunaan scaffolding pengajar dituntut untuk memberikan lebih sedikit kontrol terhadap siswanya dan membiarkan mereka belajar dari kesalahan yang mereka buat. Penggunaan scaffolding tanpa pelatihan yang tepat pada pengajar juga dapat menghasilkan efektivitas yang diinginkan (Van Der Stuyf, 2002).

Teknik

1. Pertanyaan: Guru menggunakan berbagai jenis pertanyaan untuk mendorong pemikiran kritis dan refleksi.

2. Demonstrasi: Guru menunjukkan cara melakukan suatu tugas atau menyelesaikan masalah.

3. Modeling: Guru memberikan contoh bagaimana cara berpikir dan memecahkan masalah.

4. Prompting: Guru memberikan petunjuk dan dorongan kepada peserta didik saat mereka belajar.

5. Feedback: Guru memberikan umpan balik yang konstruktif kepada peserta didik untuk membantu mereka belajar.

Penerapan Scaffolding pada ZPD

Scaffolding harus diterapkan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Tingkat Kemampuan Peserta Didik: Guru harus menyesuaikan dukungan dan bantuan yang diberikan dengan tingkat kemampuan individu peserta didik.

2. Tugas: Tugas yang diberikan harus menantang tetapi juga dapat dicapai oleh peserta didik dengan bantuan yang tepat.

3. Tujuan Pembelajaran: Guru harus jelas tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan menggunakan scaffolding.

4. Interaksi: Guru harus berinteraksi dengan peserta didik secara teratur untuk memantau kemajuan mereka dan memberikan dukungan yang diperlukan.

Manfaat Scaffolding pada ZPD

Scaffolding dapat membantu peserta didik untuk:

1. Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka

2. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah 

3. Belajar secara mandiri

4. Mencapai potensi penuh mereka

 Kesimpulan

Scaffolding merupakan salah satu strategi pengajaran yang unik dan menantang untuk diterapkan dalam kelas. Scaffolding merupakan hal yang berbeda dari sekedar memberikan bantuan kepada siswa. Scaffolding menuntut pengajar bukan hanya untuk memberikan jawaban yang benar kepada siswa, namun juga untuk ikut serta dalam memunculkan motivasi siswa dalam menemukan jawaban atau solusi yang benar dan tepat. Meski pun terkesan sulit dan rumit tetapi scaffolding dapat memberikan hasil positif yang memuaskan untuk pemahaman dan juga perkembangan siswa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja 3.2 Experiential Learning Pembelajaran Sosial Emosional

T6-3 Eksplorasi Konsep pada Isu-Isu Penyelenggaraan Pendidikan Dan Pembelajaran Di Sekolah Dalam Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, Dan Politik

SEL.11.2-T4-9 Aksi Nyata (Zone of Proximal Development (ZPD) dalam pembelajaran) Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan