T3-6a Elaborasi Pemahaman Pembelajaran Sosial Emosional Pendidikan Profesi Guru mapel PJOK
Halllo sahabat semua berikut saya adalah :
NAMA / NIM : PERDANA SETYA PRASANTO / 2364817032
KELAS : PPG PRAJABATAN 2 TAHUN 2023 PJOK UNDIKSHA
MATA KULIAH : PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL ( EXPERIENTIAL LEARNING )
Setelah melakukan role play dan mengamati jalannya proses role play, sekarang saatnya kita mendiskusikan dan mengevaluasi bagian mana yang sudah baik dan masih kurang dalam proses role play tersebut.
1. Apa saja hal-hal yang sudah baik dilakukan dalam proses role play tersebut?
Di dalam proses role play dalam experiential learning kita sebagai guru PJOK profesional membantu peserta didik belajar tidak hanya secara teoritis, tetapi juga melalui pengalaman langsung hingga praktek langsung karena PJOK juga berinteraksi dengan adanya sistem gerak manusia. Hal ini mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan pengembangan berbagai keterampilan penting dalam materio olahraga. Hal-hal yang sudah baik dilakukan dalam proses role play yaitu saat mempersiapkan diri untuk memerankan sesuatu, peserta didik perlu memahami dan mengingat materi yang akan mereka bawakan.seperti contoh mereka yang atlit pencak silat nereka akan membawakan gerak dasar silat pada materi bela diri yang di sampaikan oleh guru, itu salah satu role model mereka karena mereka peserta didik aktif dalam aktivitas pembelajaran di luar sekolah yang snagat bermanfaat bagi mereka untuk menambah nilai asessment.
Proses ini memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dipelajari. Bermain peran juga mengharuskan peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain dalam situasi yang disimulasikan. Ini membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, negosiasi, dan kerja sama tim.
Seringkali dalam role play, peserta didik tidak diberikan skrip yang kaku. Mereka dituntut untuk berpikir kreatif dan mengambil inisiatif untuk mengembangkan karakter dan dialog mereka. Selain itu role play dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. Hal ini dapat meningkatkan minat peserta didik terhadap materi pelajaran. Melalui observasi bagaimana peserta didik memerankan karakternya, guru dapat menilai seberapa baik mereka memahami konsep yang diajarkan
2. Apa saja hal-hal yang masih belum maksimal dilakukan dalam proses role play tersebut?
dalam memaksimalkan pembelajaran model ini bila role play dilakukan bersama peserta didik yaitu ketika adegan pemberian layanan experiential learning maka hasilnya akan kurang natural karena terkadang dinamika tokoh yang menjadi peserta didik sudah ter-setting sedemikian rupa. Berbeda jika berhadapan dengan peserta didik secara langsung pasti akan ada hal- hal yang tidak terduga yang harus dihadapi guru bimbingan dan konseling ketika memberikan layanan.
Selain itu menyiapkan dan menjalankan role play yang efektif bisa memakan waktu, terutama jika materinya kompleks. Ini dapat mengganggu kelancaran layanan jika waktunya terbatas. Kesuksesan role play bergantung pada keahlian fasilitator dalam mengarahkan diskusi dan menjaga suasana tetap kondusif. maka dari itu penting nya peserta didik harus ikut aktif dalam ;pembelajaran diluar kelas atau sekolah untuk menunjang kebutuhan mereka para peseta didik dalam menghadapi hal yang terjadi seperti itu.
3. Bagaimana sebaiknya saya dapat membuat metode dan siklus lebih sinkron satu sama lain?
membuat metode dan siklus adalah dengan cara tetapkan tujuan layanan yang spesifik dan terukur untuk setiap sesi experiential learning. Tujuan ini harus selaras dengan metode dan siklus yang akan digunakan. Suatu metode dan siklus dapat lebih sinkron jika guru bimbingan dan konseling telah memahami dengan baik mengenai tahapan dalam suatu metode yang digunakan. Susun siklus experiential learning yang jelas dan terstruktur. Siklus ini harus mencakup tahapan-tahapan seperti concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, dan active experimentation. Selain itu materi yang dibawakan juga terlebih dahulu diidentifikasi apakah cocok jika diterapkan menggunakan model experiential learning. Oleh karena itu dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka metode yang digunakan diharapkan dapat sinkron dengan siklus karena guru bimbingan dan konseling lebih memahami pada bagian mana model experiential learning dapat diterapkan.
4. Bagaimana saya menempatkan pihak terkait seperti rekan sejawat dan orangtua dalam proses experiential learning?
Kita sebagai guru yang berpusat pada peserta didik memberikan luar tentang rekan sejawat dan orangtua dalam proses experiential learning dapat ditempatkan sebagai pihak pendukung tercapainya tujuan layanan. Selain itu untuk menggali lebih lanjut mengenai pengalaman peserta didik maka perlu melakukan wawancara dengan orang tua. Selain itu rekan sejawat juga memiliki peran penting untuk mendukung proses experiential learning dalam tingkah laku dan pengalaman peserta didik di sekolah.
Adanya faktor pendukung dari orang tua dan rekan sejawat maka proses experiential learning diharapkan akan berjalan lebih efektif ketika diterapkan di kelas. Melibatkan orang tua atau rekan kerja dalam proses experiential learning dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks dunia nyata. Pihak terkait dalam proses experiential learning juga dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan pengalaman belajar peserta didik dan membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran mereka.
5. Hal apa yang sebaiknya saya rencanakan untuk memaksimalkan proses experiential learning tersebut?
Untuk mendapatkan hasil yang max Pada proses experiential learning, sebagai seorang guru perlu memaksimalkan dalam mempelajari metode layanan. Metode yang akan digunakan harus dipahami dengan maksimal untuk mendukung proses experiential learning yang lebih efektif. Selain itu guru juga perlu memaksimalkan dalam pemahmannya terkait karakteristik peserta didiknya. Pemahaman yang baik terkait masing-masing peserta didik akan mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sehingga penerapan metode layanan dengan melibatkan proses experiential learning akan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Selain itu untuk memaksimalkan proses experiential learning perlu merencanakan beberapa hal dengan matang meliputi menetapkan tujuan pembelajaran yang spesifik, terukur, dan dapat dicapai untuk setiap sesi experiential learning.
Pastikan tujuan ini selaras dengan kurikulum dan kebutuhan belajar peserta didik. Serta memilih metode experiential learning yang sesuai dengan tujuan layanan, karakteristik peserta didik, dan sumber daya yang tersedia. Pertimbangkan berbagai metode seperti simulasi, role-playing, studi kasus, dan proyek.
6. Bagaimana sebaiknya saya merefleksikan pemahaman saya dalan revisi RPL saya?
Melakukan refleksi pemahaman dalam revisi RPL adalah dengan mencermati rincian seperangkat RPL yang telah dirancang yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Melihat bagaimana metode yang digunakan telah sesuai dengan karakteristik peserta didik, materi yang digunakan telah sesuai dengan kebutuhan peserta didik, serta strategi proses experiential learning yang sudah sinkron dengan metode yang digunakan. Hal tersebut akan mendorong saya untuk menelaah lebih jauh
terkait pemahaman saya pada hal-hal yang berkaitan dengan layanan yang saya rancang untuk peserta didik. Selain itu perlu membagikan refleksi saya dengan rekan sejawat,dosen pembimbing lapangan, atau guru pamong. Mendiskusikan temuan dan dapatkan masukan untuk meningkatkan RPL saya. Dengan merefleksikan pemahaman saya dalam revisi RPL, saya dapat menjadi guru bimbingan dan konselinh yang lebih efektif dan membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka.

.jpg)


.jpg)
Komentar
Posting Komentar